Bulanpun Cemburu meliriknya

Aku tak akan mengajarkanmu cara melangkah,

Agar nanti kau tak meninggalkanku

Akan ku biarkan kau lumpuh karna merinduku.

Sedetikpun bulan tak berkejap menyinari

Andai tanah bukan bagian dari bumi

Andai awan bukan bagian dari langit

Alam yag berpikir ataukah

Andai yang memikirkan alam ?

Ah alam membuatku gila

Gila yang membuat alam menjadi gila

Sebuah rangkulan hangat di saat semua orang berlalu lalang

Merusak umurku menjadi bertambah tua

Kuteriakkan suara asap keatas langit tanpa hijab

Pesona suara serasa selaras dengan cahaya bulan

Menimbulkan resonansi antara Aku, Kau dan Dia

Abrakadabra aku di sulap menjadi dewasa

Kembali kuteriakan kembali tapi bukan suara asap

kuteriakkan adalah suara mantra

Disaksikan langsung sang putri malam

Merubah Imajinasiku menjadi pribadi romantis

Berdesirku dibuatnya

Sampai akhirnya bulanpun cemburu

Jengkal kaki terasa bagai jalan semut

Lamban namun berlari kencang

Sejenak kuhentikan langkah

Kujinakkan tanganku

secara sembunyi sedikit genggaman

Menyatu bagai mesin penyeludup tercanggih

Aku terlanjur cinta dengan malam

Penuh Keindahan dengan kesederhanaannya

Putri malampun menyerukan cintaku

Kesetiap penjuru pecemburu dan pemburu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s