sebuah nasihat rindu

Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab masjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya.

Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi fikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh, sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, populariti kesolehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir.

Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya dan rapuh. Wanita itu betul-betul telah membuatnya terpikat. Seorang wanita yang dalam pandangannya begitu anggun dan sempurna. Cantik, manis, cerdas, hafal al-Qur`an, sopan dan lembut dan lain-lainya. Seorang wanita yang menurutnya layak dijadikan pasangan hidup menuju syurga. Seorang wanita yang semua kriteria calon istri dambaan ia temukan pada dirinya. Lanjutkan membaca “sebuah nasihat rindu”

Iklan

jagalah hati

“Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbutan manusia dan apabila hati itu rusak maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah,ia adalah hati”.(Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nu’man IbnBasyir ra).

Hati adalah ibarat cermin, setitik embun pun bisa membuatnya kusam, apalagi debu, kotoran dan air bernoda hitam. Hati yang kotor tidak mampu menangkap cahaya kebenaran. Namun cermin yang jernih, tak hanya berfungsi untuk mengenali diri sendiri, namun juga membimbing pada ruh-ruh kebaikan . Lanjutkan membaca “jagalah hati”

kisah seorang ayah,anak dan keledainya

Ada sebuah kisah di mana seorang ayah dan anaknya akan pergi ke kampung sebelah. Mereka membawa tunggangan seekor keledai. Saat berangkat dari rumah, karena hanya membawa seekor keledai, Si Ayah menyuruh anaknya untuk menuntun keledainya, saat melewati kerumunan orang di pasar, ada yang nyeletuk, “Dasar orang tua tidak punya kasian, dia enak-enakan naik keledai, anaknya disuruh jalan kaki”. Demi mendengar itu si ayah turun.

Maka, si anak disuruh naik keledai, dan ayahnya menuntun keledai itu. Baru setengah perjalanan, mereka melewati sekumpulan orang. Maka terdengar lagi orang nyeletuk, “Wah…anak nggak punya sopan santun, dia enak-enakan naik keledai, ayahnya disuruh menuntun!”. Karena mendengar omongan seperti itu, maka turunlah si anak. Ayahnya bilang,” Sudah kita naik bareng saja!”.

Maka mereka naik keledai bersama-sama, ternyata ketika mereka bertemu orang lagi, mereka disindir,” Dasar nggak punya perasaan, masak keledai kecil begitu dinaiki berdua, apa nggak kasian?”. Akhirnya mereka turun, dan melanjutkan perjalanan tanpa menaiki keledai itu, belum juga kesal diomongkan orang hilang, ada oranng menyindir lagi, “Dasar orang bodoh, ada kendaraan kok nggak dipakai, malah jalan kaki!”.

Maka berhentilah mereka di pinggir sungai, dan dilepaskanlah keledai itu. Sambil duduk istirahat di pinggir sungai, Si Ayah berkata pada anaknya,” Anakku pelajaran apa yang kamu dapat hari ini?”, Si Anak bingung, Dia menjawab,”Aku tidak tahu ayah, setahu mulai tadi kita disalahkan terus sama orang-orang, betul begitu ayah?”.

Dengan bijaksana Si Ayah berkata,”Ya..begitulah hidup anakku, manusia itu hanya bisa menilai dan mengkritik, padahal hal itu tidak ada manfaatnya bagi mereka. Kalaulah kita menuruti setiap omongan manusia, maka selamanya kita tidak akan bisa benar, karena pendapat setiap orang berbeda dan relatif, kita harus punya pendirian dan prinsip, selama kita tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar syariat Allah SWT dan RasulNya, maka jalankanlah.” Lanjutkan membaca “kisah seorang ayah,anak dan keledainya”

5 hal sebelum 5 hal

Allah SWT  menganugerahkan kita banyak hal dalam hidup kita, termasuk saat ini, ketika anda membaca tulisan ini, Allah SWT dengan sifat Rohman RohimNya masih memberikan kita semua nafas dan kesempatan. Sesuatu yang luar biasa yang tidak bisa digantikan oleh apapun, termasuk dunia. Begitu pentingnya masa ini, sampai-sampai Allah SWT bersumpah dalam salah satu firmanNya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr: 1-3)

Lanjutkan membaca “5 hal sebelum 5 hal”

2 kerugian yang menyibukan diri dengan dunia

Sebagai manusia tentunya kita tidak luput dari yang namanya kebutuhan akan dunia. Tetapi, kebutuhan akan dunia itu jangan sampai membuat kita lalai akan akan adanya akhirat. Agama sendiri mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Di zaman sekarang ini banyak manusia yang sibuk mencari dunia tapi lalai dalam mencari bekal akhiratnya.

Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk dengan dunia
sungguh ia telah tertipu oleh panjangnya angan-angan
Atau setelah berada dalam kelalaian hingga ajal mendekatinya Lanjutkan membaca “2 kerugian yang menyibukan diri dengan dunia”

NASIHAT-NASIHAT AHLI HIKMAH UNTUK PEGANGAN HIDUP

Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra saat ditanya mengenai amalan, hari dan bulan yang baik, maka beliau menjawab:
” Amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah SWT, Bulan yang paling baik adalah bulan yang di dalamnya engkau bertobat kepada Allah SWT dengan tobat nasuha, dan Sebaik-baiknya hari adalah hari di saat engkau pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah SWT dalam keadaan beriman kepada-Nya”
Seorang Ahli Hikmah memberi nasihat dalam bait-bait syairnya:
Tidakkah kaulihat bencana yang ditimpakan oleh masa kepada kita
Menghanyutkan kita dalam permainannya Baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan
Jangan sekali-kali kau tergiur oleh duniawi dan perhiasannya, Karena dunia bukan tempat kita yang sebenarnya
Banyak beramallah demi kemaslahatan dirimu Sebelum kematian datang menjemputmu Janganlah terpedaya oleh teman dan saudara yang banyak kau miliki. Lanjutkan membaca “NASIHAT-NASIHAT AHLI HIKMAH UNTUK PEGANGAN HIDUP”

6 renungan untuk hidup kita

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”.Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali Imron:185)
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”.
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata ImamGhozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu”.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pernikahan Itu Membuka Tabir Rahasia

pernikahan itu…
membuka tabir rahasia, bahwa isteri yang kita nikahi…
tidaklah secantik Zulaikha… tidaklah selembut Aisyah,
tidaklah setakwa Maryam… tidak pula setabah Fathimah,
apalagi semulia Khadijah…
akan tetapi dia hanyalah perempuan akhir zaman yang ingin memperbaiki diri, tuk belajar menjadi seorang wanita yang shalihah…
ia adalah wanita yang tidaklah sempurna, sehingga ia merasa sempurna ketika Tuhan menakdirkan kita hadir dalam kehidupannya, tuk selalu setia menemaninya saat senang maupun susah…
pernikahan itu… mengajarkan kita kewajiban bersama…
jika isteri menjadi tanah, kitalah langit penaungnya
jika isteri ladang tanaman, kitalah pagar penjaganya
jika isteri adalah murid, kitalah pembimbingnya
jika isteri bagaikan anak kecil, kitalah tempat bermanjanya
saat isteri menjadi madu, teguklah sepuasnya

 

seketika isteri menjadi racun, kitalah penawar bisanya
seandainya isteri tulang yang bengkok, maka lemah lembutlah saat meluruskannya …
pernikahan menyadarkan suami isteri, perlunya iman dan takwa, tuk bersama meniti sabar dalam menggapai ridhaNya…
pernikahan itu…
menyingkap tabir rahasia, bahwa suami yang kita nikahi…
tidaklah setampan Yusuf… tidaklah segagah Musa,
tidaklah setaat Ibrahim… tidak pula setabah Ayyub,
apalagi semulia Muhammad…
akan tetapi dia hanyalah laki-laki akhir zaman yang ingin memperbaiki diri, tuk belajar menjadi seorang pria yang shalih…
ia adalah pria yang tiadalah sempurna, sehingga ia merasa sempurna ketika Tuhan menakdirkan kita hadir dalam kehidupannya, tuk selalu setia di sampingnya saat senang maupun susah…

Hidup Itu ….

hidup itu sulit
jika kamu menganggap hidup itu sulit
hidup itu ceria
jika kamu menjalaninya dengan keceriaan dalam segala kondisi
hidup itu indah
jika kamu menganggap segala sesuatu yang kamu miliki dalam hidup adalah anugerah yang terindah
hidup itu manis
jika kamu bisa menambahkan sedikit senyuman manis pada setiap kejadian pahit yang kamu alami
hidup itu pahit
jika kamu menambahkan setiap keluhan dalam setiap kesempatan dalam hidup
hidup itu rumit
jika kamu memikirkan setiap masalah kecil yang tak perlu kamu pikirkan
hidup itu…………………………………………………….
hidup itu…………………………………………………….

yang pasti dalam hidup ini jadikanlah akhiratmu sebagai tujuan akhirmu , maka kesuksesan dunia akan dengan sendirinya mengikutimu

jika hanya dunia tujuan akhirmu, sebatas dunia lah yang akan kamu dapat, tidak untuk akhiratmu