SYUBHAT KE ENAM BELAS

ISA AS. HAKIM YANG ADIL

“Wal ladzii nafsii biyadihi layusyikanna ay yanziila fiikumubnu maryama hakaman muqsithan…”.”Demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil…” (HR. Muslim No. 127).

Setiap orang yang dilahirkan ke dunia yang fana ini pasti akan dihakimi oleh Isa Al Masih as. Jikalau di dalam Al Qur’an sendiri banyak sekali didapati keterangan mengenai siapa Isa Al Masih as. itu, sedangkan Nabi Muhammad saw. juga lebih dekat dengan Nabi Isa as as. di dunia maupun di akhirat, alangkah baiknya jikalau kita mau mengikuti suri tauladan nabi yaitu kita sesama umat baik umat Islam, umat Kristen dan lain umat juga saling mengasihi membina kerukunan satu dengan yang lain selama-lamanya. Amin. Lanjutkan membaca “SYUBHAT KE ENAM BELAS”

Iklan

kisah seorang ayah,anak dan keledainya

Ada sebuah kisah di mana seorang ayah dan anaknya akan pergi ke kampung sebelah. Mereka membawa tunggangan seekor keledai. Saat berangkat dari rumah, karena hanya membawa seekor keledai, Si Ayah menyuruh anaknya untuk menuntun keledainya, saat melewati kerumunan orang di pasar, ada yang nyeletuk, “Dasar orang tua tidak punya kasian, dia enak-enakan naik keledai, anaknya disuruh jalan kaki”. Demi mendengar itu si ayah turun.

Maka, si anak disuruh naik keledai, dan ayahnya menuntun keledai itu. Baru setengah perjalanan, mereka melewati sekumpulan orang. Maka terdengar lagi orang nyeletuk, “Wah…anak nggak punya sopan santun, dia enak-enakan naik keledai, ayahnya disuruh menuntun!”. Karena mendengar omongan seperti itu, maka turunlah si anak. Ayahnya bilang,” Sudah kita naik bareng saja!”.

Maka mereka naik keledai bersama-sama, ternyata ketika mereka bertemu orang lagi, mereka disindir,” Dasar nggak punya perasaan, masak keledai kecil begitu dinaiki berdua, apa nggak kasian?”. Akhirnya mereka turun, dan melanjutkan perjalanan tanpa menaiki keledai itu, belum juga kesal diomongkan orang hilang, ada oranng menyindir lagi, “Dasar orang bodoh, ada kendaraan kok nggak dipakai, malah jalan kaki!”.

Maka berhentilah mereka di pinggir sungai, dan dilepaskanlah keledai itu. Sambil duduk istirahat di pinggir sungai, Si Ayah berkata pada anaknya,” Anakku pelajaran apa yang kamu dapat hari ini?”, Si Anak bingung, Dia menjawab,”Aku tidak tahu ayah, setahu mulai tadi kita disalahkan terus sama orang-orang, betul begitu ayah?”.

Dengan bijaksana Si Ayah berkata,”Ya..begitulah hidup anakku, manusia itu hanya bisa menilai dan mengkritik, padahal hal itu tidak ada manfaatnya bagi mereka. Kalaulah kita menuruti setiap omongan manusia, maka selamanya kita tidak akan bisa benar, karena pendapat setiap orang berbeda dan relatif, kita harus punya pendirian dan prinsip, selama kita tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar syariat Allah SWT dan RasulNya, maka jalankanlah.” Lanjutkan membaca “kisah seorang ayah,anak dan keledainya”

2 kerugian yang menyibukan diri dengan dunia

Sebagai manusia tentunya kita tidak luput dari yang namanya kebutuhan akan dunia. Tetapi, kebutuhan akan dunia itu jangan sampai membuat kita lalai akan akan adanya akhirat. Agama sendiri mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Di zaman sekarang ini banyak manusia yang sibuk mencari dunia tapi lalai dalam mencari bekal akhiratnya.

Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk dengan dunia
sungguh ia telah tertipu oleh panjangnya angan-angan
Atau setelah berada dalam kelalaian hingga ajal mendekatinya Lanjutkan membaca “2 kerugian yang menyibukan diri dengan dunia”

NASIHAT-NASIHAT AHLI HIKMAH UNTUK PEGANGAN HIDUP

Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra saat ditanya mengenai amalan, hari dan bulan yang baik, maka beliau menjawab:
” Amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah SWT, Bulan yang paling baik adalah bulan yang di dalamnya engkau bertobat kepada Allah SWT dengan tobat nasuha, dan Sebaik-baiknya hari adalah hari di saat engkau pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah SWT dalam keadaan beriman kepada-Nya”
Seorang Ahli Hikmah memberi nasihat dalam bait-bait syairnya:
Tidakkah kaulihat bencana yang ditimpakan oleh masa kepada kita
Menghanyutkan kita dalam permainannya Baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan
Jangan sekali-kali kau tergiur oleh duniawi dan perhiasannya, Karena dunia bukan tempat kita yang sebenarnya
Banyak beramallah demi kemaslahatan dirimu Sebelum kematian datang menjemputmu Janganlah terpedaya oleh teman dan saudara yang banyak kau miliki. Lanjutkan membaca “NASIHAT-NASIHAT AHLI HIKMAH UNTUK PEGANGAN HIDUP”

6 renungan untuk hidup kita

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya Pertama,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”.Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali Imron:185)
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”.
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”.
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata ImamGhozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu”.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai”. (QS. Al A’raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.