ISTANA SUTERA DI DALAM LUKISAN

Terik matahari membakar punggungku dan bapak. Kulitku seakan-akan masuk kedalam rimbunan api. Sampai merasuki tulang belulangku. Ku kuras semua tenagaku untuk mendorong gerobak bertumpukan batu ini. Kaki dan tanganku bagai layang-layang putus talinya. Ku coba tuk semangat dan tetap semangat. Aku dan bapak terus mendorong gerobak ini. Kami ikuti alur jalan dari sungai Grindulu menuju ke kampungku. Kami berjalan sambil tertatih-tatih. Hingga tubuh kami bermandikan keringat. Demi berdirinya istana impian kami. Namun aku sudah tidak kuat lagi. “Pak, capek pak..haaahh… haaahh…haaahh..” rengekku dengan nafas ngos ngosan, “Istirahat sebentar ya Pak?” pintaku sambil mengusap keringat yang mengalir di wajahku. “Ya, kita istirahat di sini saja.” kata bapak sambil meletakkan gerobak di bawah rerimbunan pohon yang melambai-lambai. “Alhamdulillah, akhirnya bisa istirahat juga..anginnya sepoi-sepoi Pak..” ujarku. “Iya nduk1 udaranya sejuk sekali disini.” balas bapak dengan mengambil sebotol air minum, Lanjutkan membaca “ISTANA SUTERA DI DALAM LUKISAN”
Iklan